Sikap “Kampung” Pekerja Indonesia di Jepang Jadi Sorotan, Apa Masalahnya?

Sebuah unggahan di platform X yang membahas perilaku sebagian pekerja Indonesia di Jepang menarik perhatian warganet. Unggahan tersebut menyoroti kebiasaan yang oleh penulisnya disebut sebagai sikap “kampung”, termasuk budaya senioritas yang dianggap masih terbawa sampai ke Jepang.

Salah satu yang disoroti adalah kebiasaan “maen senioritas”, ketika pekerja yang lebih dulu datang atau lebih lama bekerja merasa memiliki posisi sosial lebih tinggi dibandingkan pekerja baru.

Unggahan tersebut memantik berbagai tanggapan. Ada yang menganggap kritik tersebut sebagai kenyataan yang memang perlu dibicarakan, sementara sebagian lainnya menilai istilah “kampung” terlalu menggeneralisasi dan tidak bisa digunakan untuk menggambarkan semua pekerja Indonesia di Jepang.

Terlepas dari perdebatan tersebut, fenomena ini menarik untuk dibahas karena bekerja di jepang bukan hanya soal kemampuan bekerja, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Apa yang Dimaksud dengan “Sikap Kampung”?

Dalam konteks unggahan tersebut, istilah “kampung” bukan berarti seseorang berasal dari desa atau daerah tertentu.

Istilah itu digunakan untuk menggambarkan perilaku yang dianggap masih membawa kebiasaan lama ke lingkungan kerja dan kehidupan di Jepang. Salah satu yang paling banyak disoroti adalah senioritas yang diterapkan secara berlebihan.

Misalnya, seseorang yang sudah lebih dulu kerja di Jepang merasa berhak memberikan tekanan kepada pekerja yang baru datang hanya karena statusnya sebagai senior.

Padahal, senioritas dan pengalaman sebenarnya tidak selalu menjadi masalah.

Orang yang lebih lama bekerja memang bisa memiliki pengalaman lebih banyak dan membantu pekerja baru beradaptasi. Masalah muncul ketika posisi tersebut digunakan untuk memperlakukan junior secara tidak wajar.

Contohnya bisa berupa:

  • memberikan tugas secara tidak adil hanya kepada pekerja baru;
  • merasa junior harus selalu mengikuti kemauan senior;
  • menggunakan pengalaman lebih lama sebagai alasan untuk mendominasi;
  • membedakan perlakuan berdasarkan angkatan;
  • atau menciptakan tekanan sosial kepada pekerja yang baru datang.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya senioritas, tetapi bagaimana senioritas tersebut diterapkan.

Mengapa Senioritas Bisa Terbawa ke Jepang?

Sebagian pekerja Indonesia yang berangkat ke Jepang tidak hidup sendirian. Mereka dapat tinggal di asrama atau tempat tinggal bersama dengan pekerja lain.

Dalam situasi seperti ini, hubungan antar sesama pekerja dari Indonesia bisa menjadi cukup dekat. Orang yang sudah lebih dulu datang dapat menjadi tempat bertanya bagi pekerja baru mengenai berbagai hal, mulai dari pekerjaan, tempat belanja, transportasi hingga kehidupan sehari-hari.

Hubungan seperti ini sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang positif.

Pekerja senior dapat membantu junior beradaptasi, sementara pekerja baru mendapatkan lingkungan sosial yang membuat mereka tidak merasa sendirian di negara asing.

Namun, hubungan tersebut bisa berubah menjadi tidak sehat apabila pengalaman atau masa tinggal yang lebih lama dianggap sebagai kekuasaan atas orang lain.

Di sinilah kemampuan beradaptasi menjadi sangat penting.

Bekerja di Jepang Bukan Berarti Harus Meninggalkan Semua Kebiasaan Indonesia

Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan.

Beradaptasi dengan budaya Jepang bukan berarti seseorang harus menghilangkan identitas atau kebiasaan daerah asalnya.

Pekerja Indonesia tetap bisa menggunakan bahasa Indonesia ketika berkumpul, memasak makanan Indonesia, menjalankan kebiasaan yang tidak bertentangan dengan aturan setempat, dan membangun komunitas dengan sesama warga Indonesia.

Hal yang perlu ditinggalkan adalah kebiasaan yang dapat mengganggu pekerjaan atau kehidupan bersama.

Misalnya, jika seseorang terbiasa memperlakukan junior secara berbeda hanya karena usia atau angkatan, kebiasaan tersebut sebaiknya dievaluasi ketika berada di lingkungan kerja yang baru.

Begitu juga dengan kebiasaan tidak disiplin, sulit menerima kritik, tidak menjaga kebersihan tempat tinggal bersama, atau menganggap aturan sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Beradaptasi bukan berarti kehilangan jati diri. Adaptasi berarti mampu memahami kapan sebuah kebiasaan masih sesuai dan kapan perlu diubah.

Kehidupan Bersama Bisa Menjadi Tantangan Tersendiri

Bagi pekerja yang baru pertama kali tinggal di luar negeri, kehidupan bersama orang lain juga bisa menjadi pengalaman baru.

Hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak terlalu dipikirkan dapat menjadi sumber konflik ketika beberapa orang tinggal dalam satu tempat.

Contohnya:

  • kebersihan kamar;
  • jadwal menggunakan fasilitas bersama;
  • suara dan waktu istirahat;
  • penggunaan dapur;
  • pembagian tugas;
  • penggunaan barang bersama;
  • hingga cara berkomunikasi dengan teman satu tempat tinggal.

Karena itu, kemampuan hidup bersama sebenarnya sama pentingnya dengan kemampuan bekerja. Pekerja yang memiliki kemampuan teknis bagus tetap perlu belajar menghargai orang lain dan menjaga lingkungan tempat tinggalnya.

Apakah Budaya Senioritas Selalu Buruk?

Tidak juga. Senioritas dalam arti pengalaman dan tanggung jawab untuk membimbing orang yang lebih baru justru bisa memberikan manfaat.

Seorang pekerja yang sudah lebih lama berada di Jepang biasanya telah memahami lebih banyak hal mengenai pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut dapat membantu pekerja baru menghindari kesalahan yang sama.

Masalahnya muncul ketika senioritas berubah menjadi hubungan senior berkuasa dan junior harus tunduk.

Padahal, pengalaman seharusnya digunakan untuk membantu orang lain berkembang, bukan menjadi alasan untuk menekan.

Perbedaan ini penting karena istilah “senioritas” bisa memiliki makna yang berbeda tergantung bagaimana hubungan tersebut dijalankan.

Bagaimana Seharusnya Pekerja Baru Bersikap?

Bagi calon pekerja Indonesia yang ingin berangkat ke Jepang, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan.

1. Belajar menghormati orang yang lebih berpengalaman

Menghormati senior merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang memang memiliki pengalaman lebih banyak.

Namun, menghormati tidak berarti harus menerima perlakuan yang tidak wajar.

2. Jangan takut bertanya

Pekerja baru memang belum mengetahui semuanya.

Daripada mencoba memahami segala sesuatu sendiri dan kemudian melakukan kesalahan, lebih baik bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.

3. Belajar membedakan aturan dan kebiasaan

Tidak semua kebiasaan yang dilakukan senior merupakan aturan resmi perusahaan.

Ada kemungkinan sesuatu dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungan tersebut.

Karena itu, pekerja baru perlu memahami mana yang merupakan aturan perusahaan, mana yang merupakan aturan tempat tinggal, dan mana yang sekadar kebiasaan antarpekerja.

4. Menjaga sikap di tempat kerja

Disiplin, tepat waktu, menjaga kebersihan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan mampu bekerja sama merupakan hal-hal yang penting di mana pun seseorang bekerja.

5. Jangan membawa konflik pribadi ke pekerjaan

Perselisihan dengan teman satu asrama atau sesama pekerja sebaiknya tidak sampai mengganggu pekerjaan.

Jika terjadi masalah serius, komunikasikan dengan baik atau gunakan saluran konsultasi yang tersedia.

Untuk pekerja dengan status SSW, misalnya, terdapat mekanisme dukungan dari perusahaan atau organisasi pendukung. Pemerintah Jepang menjelaskan bahwa pekerja SSW mendapatkan berbagai bentuk dukungan, termasuk bantuan dalam kehidupan sehari-hari dan konsultasi ketika menghadapi masalah.

Jangan Menganggap Semua Pekerja Indonesia Seperti Itu

Satu unggahan viral tidak bisa dijadikan gambaran bahwa seluruh pekerja Indonesia di Jepang memiliki perilaku yang sama.

Ada banyak pekerja Indonesia yang mampu beradaptasi dengan baik, bekerja secara profesional, membantu sesama, dan membangun hubungan positif dengan lingkungan Jepang.

Bahkan dalam materi resmi program SSW Jepang, terdapat pengalaman pekerja asing yang menceritakan bagaimana mereka sempat mengalami kesulitan ketika pertama kali datang, tetapi kemudian menjadi lebih terbiasa dengan budaya dan cara kerja di Jepang.

Jadi, kritik terhadap perilaku tertentu sebaiknya tidak berubah menjadi stereotip terhadap seluruh pekerja Indonesia.

Yang perlu dikritik adalah perilakunya, bukan asal negaranya.

Apa yang Bisa Dipelajari Calon Pekerja?

Perdebatan mengenai unggahan tersebut sebenarnya memberikan satu pelajaran penting.

Ketika seseorang memutuskan bekerja ke luar negeri, persiapan tidak cukup hanya dengan mempelajari bahasa Jepang atau keterampilan pekerjaan.

Calon pekerja juga perlu mempersiapkan diri untuk:

  • hidup jauh dari keluarga;
  • tinggal bersama orang lain;
  • menghadapi perbedaan budaya;
  • menerima kritik;
  • mengikuti aturan perusahaan;
  • bekerja dengan orang dari berbagai latar belakang;
  • serta menyelesaikan masalah tanpa memperbesar konflik.

Bekerja di Jepang juga bukan sekadar tentang mendapatkan penghasilan. Ini merupakan kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru dan mengembangkan kemampuan diri.

Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Kesimpulan

Unggahan yang mengkritik “sikap kampung” pekerja Indonesia di Jepang membuka diskusi menarik mengenai senioritas, kehidupan bersama, dan kemampuan beradaptasi di luar negeri.

Istilah yang digunakan dalam unggahan tersebut memang cukup keras dan tidak bisa digunakan untuk menggeneralisasi seluruh pekerja Indonesia. Namun, persoalan yang dibahas tetap layak menjadi bahan refleksi.

Senioritas seharusnya dapat menjadi sarana untuk membimbing pekerja baru, bukan menjadi alasan untuk menekan mereka. Begitu pula kehidupan bersama seharusnya dibangun dengan saling menghormati, bukan berdasarkan siapa yang lebih dulu datang.

Bagi calon pekerja Indonesia yang ingin bekerja di Jepang, kemampuan teknis dan bahasa Jepang memang penting. Tetapi ada satu hal lain yang tidak kalah penting: kemampuan membawa diri dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Bekerja di negara lain memberikan kesempatan untuk belajar banyak hal. Jangan sampai kita hanya membawa kebiasaan lama ke tempat baru tanpa mau belajar dari lingkungan di sekitar kita.